Ibu... Kasih Sayangmu Tak Lekang Oleh Waktu
Dalam dunia ini semuabutuh kompetisi untuk menang, untuk menggapai tujuan, dan untuk menjadi yang terbaik. Layaknya pertandingan marathon, berjuta-juta sperma yang ukurannya mikro saling berlomba untuk mencapai garis finis sel ovum. Hanya satu sel yang menjadi pemenang, dengan seketika title juara dilekatkan sel ovum terhadap sperma. Pada saat itulah sang sperma mulai mendapatkan sebuah penghargaan, dimana ia bisa berkembang menjadi seorang manusia yang terbaik wujud dan sifatnya. Saat itu pulah lah Sang Pencipta meniupkan Ruh kepada janin yang kelak dilahirkan kedunia dengan segala caruk maruk dunia. Apakah dia dapat bertahan atau kah dia terbuang dan gagal.
Sebuah tangisan keras dan membahana memecah kegelisahan ruang kecil ini, para manusia yang berpakaian biru mudah menyambutku dengan senyuman bahagia. Hari itu mata saya masih belum bisa terbuka, namun saya tahu suasana ini sangatlah berbeda saat masi ada dalam kandungan. Pertama kali saya disentuh dengan bahan duniawi, dan pertama kali pula saya merasakan hangatnya sentuhan seorang wanita, entah bagaimana bisa saya merasakan ketentraman dalam sentuhannya, kedamaian dalam dekapannya, dan kebahagiaan dalam senyumannya. Namun, kala itu saya hanya bisa menangis, benar menagis tak ada kata dalam tangisan, tak ada permintaan dalam tangisan dan tak ada pertanyaan dalam tangisan dan tak ada arti dalam tangisan. Karena hanya itulah bahasa yang bisa saya ungkapkan saat itu.
Sesuatu tiba-tiba menyumpal di mulutku, dengan cekatan rahang yang tak bergigi ini mulai menggoyang-goyangkan lidah dan keluarlah cairan yang sangat enak. Mungkin manusia sekarang menyebutnya ASI (Air Susu Ibu), sungguh luar biasa nikmatnya dengan komposisi kolostrum, air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin yang cukup membuat makanan pertama saya diluar kandungan begitu istimewa.
Otakku mulai melakukan proses penyambungan sinaps hingga 1000 triliun sinaps untuk menyimpan semua informasi yang datang padaku. Informasi linguistic, sensoric dan seluruh data yang diterima lewat panca indraku mulai tersimpan di otakku. Namun, tetap saja untuk menyampaikan informasi kepada ibu saya masih harus menggunakan bahasa kalbu yaitu dengan menangis. Tangisanku kini punya arti, jika ingin makan maka saya menangis, ingin ganti popok saya menangis, ingin digendong saya menangis, bahkan ingin diperhatikan pun saya menangis.
Perawakan saya yang begitu lucu, kulit putih, mata lebar, kepala ditumbuhi sedikit rambut, tangan dan kaki yang mungil membuat saya merasa bahwa ini adalah sunnatullah yang diberikan kepada bayi. Bagaimana tidak siang malam saya berada disamping ibu, dan dengan seketika bila ada tamu yang berkunjung mereka serempak merampok saya dari pelukan ibu dan membawa saya kepelukannya, dicium, dipeluk, dan dimanja. Saya yakin karena faktor kelucuan yang saya miliki sehingga membuat mereka terhipnotis dengan sendirinya ingin mendekap saya.
Umur 4 tahun perjalanan saya sebagai bayi masih berlanjut saya sudah bisa berbicara dan berjalan. Hal ini bisa berarti positif terhadap saya karena saya bisa menjelajahi dunia baru. Tapi agak sedikit merepotkan ibu, karena dia harus terus mengawasi gerak-gerikku agar tidak terjadi hal-hal yang berbahaya terhadapku.
Saat masuk sekolah dasar semuanya berubah yang dulunya hanya berinteraksi dengan keluarga sekarang berinteraksi dengan teman sebaya. Hal ini juga menguntungkan bagi saya karena bisa mempelajari karakter orang lain yang lebih luas cakupannya. Namun, seiring bertumbuh kembangnya saya bertambah pula tanggungan ibu, dia harus menyiapkan sarapan pagi untukku, menyiapkan pakaian yang harus saya pakai yang tiap minggunya sekitar 4 pasang, senin, selasa putih merah, rabu, kamis batik, jumat olah raga, sabtu pramuka. Belum jika saya mendapat tugas rumah dari sekolah. Ibu selalu membantu saya dalam keadaan lowong atau tidak. Saya tahu dia juga punya banyak sekali pekerjaan, bukan cuma mengurusi saya saja.
Saat masuk SMP semuanya terlihat baru menurut saya, tapi agak berat bagi ibu yang secara otomatis tugasnya bertambah terhadapku. Begitu pula saat SMA. Format pakaian masih sama saat SD, hanya celananya yang berubah menjadi abu-abu. Semakin dewasa saya semakin tertarik dengan semua hal keduniawian. Saya mulai merasakan jatuh cinta, mulai tertarik dengan lawan jenis, mulai ingin berfoya-foya. Saya tahu hal ini, membuat beban kerja ibu semakin bertambah untuk menggiring saya ke jalan yang benar agak tidak terjerumus ke dalam sex bebas, pergaulan bebas, dan kenakalan remaja lainnya.
Masa kuliah membuat saya lebih jauh lagi dari sosok ibu. Setahun sekali mungkin saya baru dapat pulang untuk menjenguknya. Namun, do’a dan harapannya agar saya menjadi anak yang berbakti, anak yang sukses selalu dipanjatkannya kepada Allah SWT. Ibu tidak meminta balasan, ibu tidak mengharapkan imbalan, tidak menginginkan keuntungan apa-apa dari kesuksesan kita. Tapi ibu hanya butuh kita menjadi anak yang berbakti, anak yang beriman dan bertaqwa agar kelak dapat mendo’akannya ketika beliau wafat.
Sekarang, saya terbaring di rumah sakit ini dengan kontraksi diperut yang sangat menyiksa. Sekarang saya tahu bagaiamana perasaan dulu ketika ibu melahirkan saya. Sekarang saya tahu bagaiamana kondisi ibu ketika merawat saya. Dan saya akan melanjutkan perjuangan ibu menjadi seorang ibu untuk anakku.
Tulisan ini saya buat untuk teman saya yang telah melahirkan anak pertamanya semoga dapat menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan menjadi anak yang beriman dan betaqwa kelak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar