Selamat Jalan Istriku (Kisah Nyata menyentuh)


Selamat Jalan Istriku (Kisah Nyata menyentuh)

Tiba-tiba HP ku berdering, setelah menjawab salam suara diseberang telepon tampak panik “Ayah.. bunda mimisan nich.” Hmm.. kumaklumi kepanikan istriku saat itu karena belum pernah dia mengalami mimisan seperti ini.

Memang cuaca di bulan Agustus 2007 siang itu begitu teriknya. Aku pikir ini akibat cuaca yang terik itu. Kemudian aku sarankan dia untuk segera ke dokter.

Beberapa hari kemudian istriku sakit pilek. Seperti biasanya kalau sakit ia hanya minum obat warung dan jarang sekali mau periksa ke dokter. “ oalah bunda…. ke dokter ajah kok takut,” ledekku, ku sorong pipi kenyalnya dengan ujung jari, ia merajuk bibirnya maju 2 centi, lucu melihatnya seperti itu.

Dua minggu berselang tapi pileknya belum juga hilang. Malah katanya ada yang terasa menyumbat di saluran hidungnya, rasanya tak nyaman dan susah bernafas. “Bun… besok kita ke Rumah Sakit ya! biar ayah ijin masuk siang,” rayuku agar ia mau ke Rumah sakit.

Keesokan harinya saya ajak ia ke RS. Bhakti Yudha Depok. Saat itu dokter THT bilang istriku alergi pada debu dan juga bulu-bulu binatang. Tapi sampai obatnya habis pileknya belum juga ada tanda-tanda kesembuhan.

Anehnya yang sering keluar lendir hanya hidung sebelah kiri saja. Bahkan istriku mulai susah bernafas melalui hidung, ia hanya bisa bernafas melalui mulut. Dan ketika saya membawanya periksa untuk kedua kalinya dokter menyarankan untuk rontgen. Namun dari hasil rontgen tidak terlihat adanya kelainan apapun di hidung istriku.

***
Tanggal 3 Nov 2007 ...

Aku mengajaknya periksa ke RS Proklamasi Jakarta, karena menurut informasi di sini peralatanya lebih lengkap. Ternyata benar, dengan alat penyedot dokter mengeluarkan lendir dari dalam hidung istriku. Senang rasanya melihat ia dapat bernafas dengan lega. “Alhamdulillah…..”

Beberapa hari kemudian sumbatan itu kembali muncul. “Duh..bunda!” Kontrol kedua ke RS. Proklamasi masih saja dokter belum bisa menyampaikan penyakit apa yang dialami istriku ini.

Dokter memasukkan kapas basah ke hidung istriku (ternyata itu adalah bius lokal), beberapa saat kemudian sebuah gunting kecil dimasukkan kedalam hidung dan.. “krek” potongan daging kecil diambil. Belakangan baru aku tau tindakan inilah yang dinamakan biopsi. Tak ada yang disampaikan kepada kami. Dokter menyarankan dilakukan CT Scan. Kemudian kami menuju ke RSCM untuk CT Scan.

Keesokan harinya hasil CT Scan aku bawa kembali ke Dokter RS Proklamasi. Setelah melihat hasil Scan, Dokterpun menyampaikan hasilnya dan juga hasil biopsi dari laboratorium.

“ini ibu positif,” kata dokter sambil menunjukkan foto CT Scan. Nampak ada sebuah massa diantara belakang hidung dan tenggorokan istriku. Cukup besar seukuran kepalan tangan. Aku masih belum mengerti maksud kata-kata nya dan memang sama sekali tak ada pikiran yang aneh aku coba bertanya, “maksudnya apa dok?”

“ibu positif kanker!”

Dek.. seolah detak jantungku berhenti “KANKER…Dok?” Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban berat serasa menindih badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku terdiam.

“Kanker..?” tanyaku, tapi kalimat itu tak mampu terucap hanya bersarang di kepalaku. Sebuah penyakit yang selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku orang yang paling aku sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang istriku.

Kutatap wajah cantik istriku yang dibalut jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tak ada ekspresi apa-apa aku makin bingung.
“duhh…bunda apa yang ada dalam fikiranmu bunda…”
“Sekarang bapak ke RSCM ke bagian Radiologi kita harus bertindak cepat,” tiba-tiba aku tersadar. Segera kuambil surat pengantar dokter dan menuju RSCM.

Sungguh tak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya, kini kami berada dalam deretan orang-orang penderita kanker di ruang tunggu spesialis Radiologi ini. Aroma kecemasan bahkan keputus asaan tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini juga saya rasakan, tapi saya harus menyembunyikan raut ini di hadapan istriku. Aku harus tetap menyuguhkan energi penyemangat padanya.

Dihadapan dokter Radiologi aku bertanya, “sebenarnya istriku kena kanker apa dok?”

“kanker nasofaring.” jawab dokter singkat.

Ya Allah….kanker apa lagi ini? Istilahnya saja aneh bagiku. Kenapa harus istriku yang mengalaminya?

“Tapi Insya Allah masih bisa disembuhkan dengan pengobatan sinar radiasi dan kemoterapy,” dokter mencoba menangkap kegalauan diwajahku.

“Nanti ibu harus menjalani pengobatan radiasi selama 25 kali.”

Terbayang beratnya derita dan kelelahan yang harus dialami istriku. Belum lagi dengan kombinasi pengobatan kemoterapy yang melemahkan fisik.

Keluar dari ruang radiologi seolah semuanya jadi gelap, rasanya aku tak kuat menahan segala beban ini. Segera aku sms family dan teman-teman dekatku, aku kabarkan keadaan istriku dan kumintakan do’a dari mereka. Tak terasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.

“Ayah kenapa? nangis yach..?” dengan polos pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.

“iya, ayah sayaaang…. sama bunda,” suaraku gemetar.

Ku usap lembut kepala istriku. Ku tepis perlahan tangannya yang mencoba mengusap air mataku, ku gengggam kuat jari-jari lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tak ada kesedihan diwajahmu bunda? apakah bunda ga tau penyakit ini begitu berbahaya? Atau Allah telah memberitahukan ini semua kepadamu?”

“Bunda biasa ajah koq..” Jawabanya malah makin membuatku tak bisa bernafas, air mataku akhirnya jatuh juga.

Kususuri lorong-lorong RSCM dengan langkah lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa tak mampu menyangga badanku yang kecil ini.

Tanggal 5 Desember 2007 ...

Mulai hari itu istriku harus dirawat inap di RS. Proklamasi. Semua persiapan pun dilakukan mulai dari USG, Bond Scan dll. Hasilnya rahim masih bersih dan tulangpun normal artinya kankernya belum mejalar ke bagian lain, Alhamdulillah…sempat kuucap kata syukur itu.

Tanggal 8 Desember 2007 ...

Hari ke empat. Sore itu aku dipanggil ke ruang Dokter Sugiono yang akan melakukan Kemoterapy. Dikatakan bahwa kanker istriku stadium 2A dan Insya Allah masih bisa diobati. Istrikupun siap untuk menjalani pengobatan dengan kemoterapy. Kemudian kami minta ijin ke Dokter untuk diperbolehkan pulang sambil mempersiapkan segala sesuatunya.

Malam hari ketika kami di rumah, kami minta pendapat dari pihak keluarga tentang pengobatan yang akan kami lakukan. Dengan berbagai pertimbangan dan alasan pihak keluarga menyarankan agar kami tidak menempuh jalan kemo dan radiasi. Kami disarankan untuk menjalani pengobatan dengan cara alternatif dan pengobatan herbal.

Akhirnya sejak saat itu kami melakukan ikhtiar pegobatan dengan cara alternatif dan minum obat-obat herbal. Karena saat itu istriku sudah susah untuk menelan maka obat herbal yang diberikan tidak berupa kapsul, melainkan berupa rebusan. Setiap hari istriku harus minum ramuan dan rebusan obat-obat herbal yang baunya sangat menyengat. Tapi aku lihat ia dengan telaten dan sabar rutin minum semua obat-obatan itu.

Semangatnya untuk sembuh begitu besar. Doa pun tiada henti kupanjatkan siang dan malam. Dan malam-malamku selalu ku habiskan dengan tahajud dan hajat.

Aku mulai rajin mencari semua informasi yang berhubungan dengan kanker nasofaring, mulai dari makanan, cara pengobatan, bahkan alamat klinik pengobatan alternatif. Semua informasi aku cari melalui internet, koran dan dari rekan-rekan kerja.

Tiga bulan pengobatan, tapi Allah sepertinya belum memberi jalan kesembuhan dengan cara ini, akhirnya obat herbal aku tinggalkan. Bahkan pengobatan alternatif sudah aku tinggalkan sejak 1 bulan pertama karena aku ragu. Beberapa keluarga istriku mulai putus asa. Malah ada yang beranggapan penyakit ini adalah kiriman dari orang. Tapi aku bantah semuanya,sempat ada pertentangan di antara kami. Aku yakinkan istriku bahwa ini adalah memang ujian dari Allah,

“Bun..semuanya atas kehendak Allah, bahkan jauh sebelum kita lahir sudah tertulis takdir ini, usia segini bunda sakit, berobat kesini-sini itu semua sudah ada dalam catatan Allah bun. Yang penting sekarang kita jangan lelah berihtiar dan bunda tetep harus semangat untuk sembuh.” Ia mengangguk perlahan.

Berat badan istriku mulai turun drastis karena tak ada asupan makanan, sebelum sakit beratnya 53 Kg kini tinggal 36 Kg. Kondisinya makin parah dan puncaknya ketika aku lihat mata kirinya sudah tak focus. Cara ia melihat seperti orang juling. Menurut Dokter herbal yang menangani istriku inilah rangkaian perjalanan kanker tersebut yang lama kelamaan akan menyerang otak. Dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit.

Tanggal 26 Maret 2008 ...

Akhirnya aku kembali membawanya ke Rumah Sakit. Kali ini aku membawanya ke RS. Husni Thamrin. Istriku ditangani oleh team yang terdiri Dokter THT, Dokter Internis dan Dokter spesialis ahli kemoterapy, Kebetulan Dokter Sugiono ahli kemoterapy yang dulu merawat istriku di RS. Proklamasi juga praktek di sini. Dan kini Dokter sugiyono kembali menangani istriku.

Sore itu Dokter memanggilku ke ruangannya. Dokter menjelaskan stadium kanker istriku sudah menjadi 4C, dan kankernya sudah mulai menggerogoti tulang tengkorak penyangga otak. Melihat hasil CT Scan nya aku merinding, terlihat jelas tulang-tulang tengkorak itu keropos layaknya daun termakan ulat. Aku ingin menjerit, “Ya Allah… begitu berat cobaan ini Kau timpakan pada kami”

“Ma’afkan ayah bun, ayah tak mampu menjaga bunda…!”

Yang lebih mengagetkan ketika dokter mengatakan, “kita hanya bisa memperlambat pertumbuhan kankernya bukan mengobati.” Seolah hitungan mundur kematian itu dimulai. Aku limbung dan hampir taksadarkan diri, sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tegar. Dengan dipapah adik aku keluar dari ruang dokter.

Segera aku menuju Mushola kuambil air wudhu dan kujalankan sholat. Entah sholat apa yang kujalankan ini.

“Aku ingin ketenangan aku butuh pertolonganMu ya Robb. Kutumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu yaa Allah. Bisa saja dokter memfonis dengan analisanya, tapi Engkaulah yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Engkau maha menggenggam semua takdir, sakit ini dariMu ya Allah dan padaMU juga aku mohon obat dan kesembuhannya.”

Segala ikhtiar dan do’a tiada lelah kulakukan tuk kesembuhan istriku. Malam-malamku kulalui dengan sujud panjang disamping bangsal rumah sakit. Kubenamkan wajahku diatas sajadah lebih dalam lagi, tiba-tiba aku merasa tak memiliki kekuatan apapun, aku berada dalam kepasrahan dan penghambaan yang lemah.

“Robb…Engkau maha mengetahui, betapa segala ihtiar telah kami lakukan. Tiada menyerah kami melawan penyakit ini, kini aku serahkan segalanya padaMu, tidak ada kekuatan yang sanggup mengalahkan kekuatannMu yaa…Robb, Tunjukkan pertolonganMu, beri kesembuhan pada istriku Ya..Allah.”

Saat itu istriku masih bisa bicara meski dengan suara kurang jelas. Karena tenggorokannya pun sudah menyempit tersumbat kanker, ia sangat kesulitan dalam bernafas. Untuk mengantisipasi agar tidak tersumbat saluran nafasnya, dokter menyarankan agar dipasang ventilator dileher istriku. Akupun menyetujuinya meskipun aku tak tega, tapi ini resiko terkecil yang bisa diambil.

Istriku pasrah, dia minta aku menemaninya ke ruang operasi. Aku sangat mengerti ia sangat takut dengan peralatan medis di ruang operasi. Kemudian aku mendampinginya kedalam ruang operasi untuk pemasangan Ventilator. Aku melihat dengan jelas leher istriku disayat kemudian dimasukkan alat bantu pernafasan itu. “Sebenarnya aku tak tega melihatmu seperti ini bunda, tapi inilah yang terbaik untukmu saat ini.”

Selesai pemasangan ventilator bicaranya sudah tak bersuara lagi. Sejak saat itu praktis komunikasi kami hanya dengan isyarat atau terkadang istriku menulisnya pada lembar-lembar catatan kecil yang sengaja aku siapkan. Tentu saja hal ini terasa capek baginya. Namun sekali lagi ia terlihat tegar tak pernah aku mendengar ia mengeluh.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan akupun menyetujui untuk dilakukan kemoterapy terhadap istriku

Tanggal 6 April 2008 ...

Kira-kira jam 12 siang kemo tahap pertama dilakukan. Dengan perasaan tak menentu aku melihat dokter meracik obat dengan perlengkapan pengaman yang lengkap. Karena menurut dokter obat ini memang keras.

“Ya Allah beri kekuatan pada istriku…!” Beri kesembuhan melalui ihtiar obat ini ya Allah..!”

Sepanjang proses pengobatan tak hentinya kupanjatkan do’a dan dzikir dibantu dengan beberapa anggota keluarga.

Menurut Dokter kemo ini dilakukan dalam 3 sampai 5 tahap. Satu tahapan kemo memakan waktu 5 hari kemudian jeda 3 minggu untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Hari kedua setelah kemo kurang lebih jam 9 malam, istriku mulai merasa mual dan muntah. Hari ketiga jam 12 malam mulai keluar mimisan dengan darah hitam mengental. Hari ke empat jam 8 pagi ketika saya memandikan dan membersihkan mulutnya yang terus menerus mengeluarkan lendir, terdapat lendir bercampur darah hitam pekat dan mengental.

Menurut dokter ini adalah tanda kankernya sudah mulai hancur. Malam harinya istriku tidur sangat nyenyak dan tidak banyak batuk berdahak seperti hari-hari sebelumnya.

Alhamdulillah kemo tahap pertama selesai. Dokter bilang jika kondisi istriku membaik maka tiga hari lagi boleh pulang. Terlihat wajah cerah istriku ketika mendengar kabar ini. “nanti kalo pulang mau kemana bun.. ke Sawangan apa ke Kebayoran (rumah ibunya)?”

“ke Sawangan aja rumah kita sendiri,” jawabnya melalui secarik kertas. Namun ternyata dua hari kemudian ia mengalami diare yang hebat ini adalah efek samping dari obat kemo, sehingga kondisinya kembali lemas. Rencana pulangpun harus ditunda menunggu kondisinya membaik. Tetapi makin hari kondisi istriku makin drop. Hingga menjelang kemo tahap kedua malah albumin dalam darahnya menurun.

Selama dirawat istriku meminta agar saya sendiri yang memandikannya, bahkan aku juga yang membersihkan kotorannya. Semuanya saya kerjakan dengan telaten karena aku merasa sekarang saatnya untuk membalas semua kebaikan yang telah dilakukannya kepadaku selama ini. Ketika istriku sehat dialah yang selalu merawatku, menemaniku dan selalu menyiapkan semua kebutuhanku.

Selama hampir satu bulan di Rumah Sakit kami merasa menemukan keluarga baru. Keakraban terjalin antara kami dengan team dokter, dengan para suster bahkan juga dengan cleaning service yang tiap hari membersihkan kamar istriku. Saya merasa senang ketika suatu hari istriku dapat tertawa riang bercanda dengan para suster meski tawanya tanpa suara.

Minggu, 4 Mei 2008 ...

Kemo tahap ke 2 dilakukan. Sepertinya Allah benar-benar menguji kesabaranku. Ketika hendak dilakukan kemo, tabung infus 1000cc yang digunakan untuk campuran obat kemo ternyata tidak ada. Rumah sakit kehabisan stock, dan ini adalah sebuah kecorobohan yang mestinya tidak terjadi.

Karena tentunya pihak rumah sakit telah mengetahui jadwal pelaksaan kemo ini. Dokterpun marah. Kemudian Dokter menyarankan saya untuk segera membeli sendiri tabung infus di tempat lain. Tujuan saya adalah RSCM sebagai Rumah sakit terdekat, namun jika menuju RSCM menggunakan kendaraan akan memakan waktu lama karena jalannya memutar. Sayapun berlari ditengah terik matahari pukul 12 siang menuju RSCM. Namun disanapun tidak tersedia, kemudian saya berlari lagi menuju RS Sant Carolus, di sinipun nihil.

Begitu juga ketika saya ke Apotik melawai tak bisa mendapatkannya. Akhirnya saya mendapatkan tabung infus tersebut di Apotik Titimurni RS. Kramat. Akhirnya kemo tahap ke 2 pun dapat dilakukan.

Senin, 5 Mei 2008 ...

Hari ini Dinda anak kami yang kecil ulang tahun ke 4. Perhatian dan kecintaan istriku pada anaknya tak pernah berkurang. Dibatas ketidak berdayaannya dia menuliskan sesuatu, “Ayah jangan lupa beliin hadiah buat Dinda, ayah beliin jaket nanti bunda titip mukena, kasihan mukena dede sudah jelek. Bilang ke dede ini mukena dari bunda.”

Atas permintaan istriku siang itu sebagai tanda syukur kami memotong 2 buah kue ulang tahun yang salah satunya untuk dibagikan ke suster-suster yang jaga. Kemudian istriku minta dibantu turun dari tempat tidur, katanya ingin duduk bareng deket Dinda. Ia mencoba memberikan senyum bahagia pada Dinda dan menyembunyikan rasa sakitnya. Sementara Dinda nampak bahagia dipangku bundanya, mungkin ia mengira bundanya hanya sakit biasa saja. Lagu “selamat ulang tahun” yang kami nyanyikan terdengar getir di telingaku. Terasa pilu aku menatap mereka.

Selasa, 13 Mei 2008 ...

Biasanya jika istriku menginginkan sesuatu ia akan membangunkan saya dengan mengetuk besi tempat tidurnya. Namun malam itu saya merasa sangat ngantuk dan lelah, saya menulis pesan pada istriku, “bun..nanti kalo perlu apa-apa panggil suster aja ya! Ayah ngatuk dan cape, jangan bangunin ayah ya!” Dengan isyarat lemah ia mengiyakan permintaanku, ia mengusap tanganku kemudian menuliskan sesuatu “ayah tidur aja gapapa kok, bunda juga mau istirahat.”

Rabu, 14 Mei 2008 ...

Entah mengapa pagi ini aku sangat ingin merawatnya. Ketika ia kembali diserang diare berkali-kali yang sangat hebat aku sendiri yang membersihkan semuanya. Kemudian memandikannya dan mengganti pakaiannya. Pagi itu aku minta Lia anak sulung kami yang masih duduk di kelas 5 SD untuk menjaga bundanya, sebelum kemudian aku tinggal berangkat kerja.

Siang pukul 11 Lia menelpon “Ayah, bunda pingsan nafasnya cepet banget.” Aku kaget dan sangat khawatir. Selang 15 menit Lia sms “bunda sekarang ada di ruang ICU”. Astaghfirullah haladziim… apa yang terjadi pada istriku. Segera aku minta izin meninggalkan kantor. Di Rumah Sakit aku dapati Lia menangis sesegukan tak berhenti. “bunda yah… tolongin bunda yahh….!”

Kuhampiri istriku yang tergolek taksadarkan diri. Perawat memasang semua peralatan pada tubuh istriku, entah alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya, dingin sekali. Tangan dan kakinya pun sangat dingin. Hingga menjelang maghrib aku tak beranjak dari sampingnya. Tak hentinya mulut ini memanjatkan doa. Sementara di luar ruang ICU sudah banyak kerabat berdatangan.

Tekanan darahnya sangat rendah dibawah 70. Dokter memberikan obat penguat tekanan darah dengan dosis tinggi. Tekanan darahnya sempat naik namun masih dikisaran 75-80, sangat rendah. Berkali-kali dokter menyuntikkan obat perangsang namun hasilnya tetap sama tak berubah. Dokter memanggilku, perasaanku gelisah tak menentu, campur aduk antara cemas, bimbang dan ketakutan yang amat sangat. Dugaanku benar Dokter pun menyerah.

Melihat kondisinya yang terus menurun ia menyarankan agar semua alat bantu dilepas saja. “maksudnya dok..?” aku menodong penjelasan. “secara medis kondisi ibu sudah tidak dapat ditolong lagi, lebih baik kita do’akan saja.” Aku benar-benar lemas mendengarnya seluruh badanku gemetar merinding “benarkah tak ada lagi harapan.” Tiba-tiba aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku tak mau menyerah, aku meminta agar semua alat bantu itu tetap terpasang pada tubuh istriku, sambil menunggu keputusan team dokter besok pagi.

“Aku tak mau kehilanganmu bunda.” Ku pegang kuat jemarinya, “buka matamu bunda sebentar saja, ayah ingin menatap mata bening bunda untuk terakhir kalinya,” kubisikan lembut ditelinganya.

Pukul 22, aku disodori surat pernyataan, tak sempat aku baca, kata suster ini adalah Surat persetujuan untuk melepas semua alat bantu dari tubuh istriku. “Tak sanggup aku melakukan ini bun, aku ingin tetap menatap wajahmu, aku ingin tetap mendampingimu meski dalam ketidakberdayaanmu.”

Akhirnya adikku yang menandatanganinya. Aku tak ingin selalu dihinggapi rasa bersalah jika menandatangani surat itu. Kemudian semua alat bantu dilepas dari tubuh istriku, tinggal tersisa alat pendeteksi detak jantung.

“Bun…..inilah yang terbaik yang diberikan Allah buat kita, maafkan ayah bun ayah tak bisa menjaga bunda. Ayah ikhlas bunda pergi, ayah terima semua dengan ihklas bun.. Jangan khawatir bun, ayah akan menjaga dan merawat anak-anak kita,” kubisikan lirih ditelinga istriku.

Kutemui Lia yang menunggu diluar ruang ICU, kubelai rambutnya penuh sayang. Ia menangis keras sejadi-jadinya, mungkin ia paham apa yang kumaksudkan. “Bundaa….. Lia ga mau kehilangan bunda, jangan tinggalin lia bundaa..!!” Tangisnya memekik, merebut perhatian semua orang diruang tunggu ICU ini. Semua mata menatap kami tapi mereka diam seolah mengerti dengan keadaan kami.

Dalam setiap rangkaian doaku tak pernah aku mengucapkan kata-kata menyerah “kalo memang hendak Engkau ambil maka mudahkan,” tak pernah aku menyebut kata-kata itu. Aku selalu minta kesembuhan, kesembuhan karena aku memang menginginkan istriku benar-benar sembuh.

Sepertinya kini aku harus menyerah dan pasrah “Ya.. Robb jika memang Engkau menentukan jalan lain aku ikhlas ya Allah…., mudahkan jalan istriku untuk menghadapmu dengan khusnul khootimah.”

Menurut suster dalam kondisi seperti ini pasien masih bisa mendengar. Kubimbing istriku menyebut kalimat “LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH..” perlahan aku membimbingnya. Rasanya aku mengerti betul setiap helaan nafasnya, raga kami bagai menyatu. Kuulang hingga berkali-kali dengan helaan nafas yang terirama pelan. Dua bulir bening tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini, terimakasih ya Allah..!

Kamis, 15 Mei 2008 ...

Aku terbangun ketika tiba-tiba seorang suster memanggil “Keluarga ibu Siti Nurhayati..!” Aku bergegas masuk ke ruang ICU, jam menunjuk Pukul 05.05, masih pagi dengan hawa dingin yang menyusup tulang. “Ma’af pak, ibu sudah tidak ada.” ujar suster tadi singkat. Meski aku tau maksudnya tapi aku masih tak percaya. Kutengok layar monitor yang terhubung ketubuh istriku. Tak ada lagi yang bergerak disana.

Bagai tersambar petir, kudekap tubuh lemas istriku. Bibirnya menoreh segaris senyum. “INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJIUUN.” Aku lunglai terduduk disampingnya tapi tak ada lagi air mata yang keluar. “Bun, Ayah ikhlas melepas bunda, Allah telah memilihkan jalan terbaik buat kita.”

Selamat Jalan Istriku…… jemput aku dan anak-anak nanti di pintu SurgaNya.

Semoga bermanfaat bagi yang membacanya ....

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

Kekasihku, Andai Kamu Datang 30 Detik Lebih Cepat, Kita Masih Bersama..


Perpisahan adalah salah satu momen paling menyedihkan yang dialami seseorang. Terlebih lagi jika mereka harus mengalami perpisahan untuk selama-lamanya, karena maut memisahkan. Luka dan pahit mendalam akibat perpisahan ini dialami oleh Megan Duffy dan keluarga besar dari Jacob Schilt kekasihnya. Jacob Schilt telah pergi meninggalkan mereka semua untuk selama-lamanya, setelah menjadi korban dalam kecelakaan pesawat.

Hati Megan hancur berkeping-keping saat mengetahui pria yang paling dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya. Pria itu bukan hanya kekasihnya, tapi juga masa depannya ...


                                                              Megan Duffy dan Jocob Schilt

Hari itu, 22 Agustus 2015, Jacob Schuffy akan bermain dalam suatu pertandingan sepak bola bersama timnya, Worthing United FC. Jacob terbang dengan pesawat bersama Matt Grimstone rekan satu timnya menuju tempat pertandingan. Sementara itu, Megan Duffy bersama Bob dan Caroline Schilt orang tua Jacob juga sedang menuju ke tempat yang sama dengan mengendarai mobil. Dalam perjalanan, rekan satu tim Jacob menelepon Caroline, untuk menanyakan mengapa Jacob dan Matt belum tiba di tempat pertandingan. Rekan-rekan satu timnya sudah mencoba menghubungi keduanya, namun tidak berhasil. Mereka juga yakin, Jacob dan Matt pasti akan memberikan kabar jika mereka akan datang terlambat.

Alasan rekan-rekan satu tim tersebut menghubungi orang tua Jacob lebih karena mereka ketakutan. Mereka takut sesuatu yang buruk menimpa keduanya, karena sebelumnya ada salah seorang anggota tim yang sudah melihat pesawat yang ditumpangi keduanya mendarat dengan selamat. Dan kekhawatiran tersebut tidak terjawab hingga pada malam hari, polisi menghubungi keluarga Jacob, dan mengatakan bahwa mobil yang ditumpangi Jacob dan Matt ditemukan di lokasi kecelakaan pesawat. Kecelakaan tersebut melibatkan pesawat Hawker Hunter yang menghantam kendaraan Jacon dan Matt dalam suatu pertunjukan Shoreham Airshow, dan menewaskan 11 orang serta 16 orang lainnya mengalami luka-luka.


Kejadian ini tentu saja menghancurkan hati kekasih serta orangtua Jacob. "Tragedi ini merenggut nyawanya saat ia sedang dalam perjalanan untuk melakukan apa yang disukainya," kata Bob dan Caroline Schilt. "Aku mencoba untuk tidak terlalu berpahit hati menghadapi keadaan ini. Aku mencoba untuk tidak memikirkan betapa tidak adilnya ini bagi kami. Kami akan berusaha menerima kenyataan ini," Bob menambahkan. Bob dan Caroline juga menyesali kejadian ini karena telah merenggut masa depan indah dari anaknya dan Megan. "Kehidupan dan masa depan Megan seolah telah dirampok darinya".

Peristiwa ini menimbulkan luka mendalam bagi orang tua, kekasih, serta rekan satu tim Jacob ..


Rasa Cinta dan Sayang Kini Hanya Bisa Diungkapkan Lewat Pesan


Jacob sudah mencintai sepak bola sejak kecil, dan karirnya bagus di dunia olahraga ini. Sebelum meninggal, Jacob sedang menyelesaikan pendidikan S2. Ia tidak hanya meninggalkan orang tua dan kekasih, tapi juga Louise adiknya dan John kakeknya. Kalimat terakhir yang diucapkan kedua orang tuanya pada Jacob hanyalah "Sampai jumpa di pertandingan".

                                                             Pesan terakhir orang tua Jacob

Peristiwa tragis dan menyedihkan ini meninggalkan luka di hati banyak orang. Karena itu banyak orang yang memberikan penghormatan bagi Jacob, Matt serta korban lain dengan meletakkan karangan bunga di sepanjang suatu jembatan. Ada banyak pesan terakhir yang diletakkan di sana juga. Pesan menyentuh juga dituliskan oleh orang tua Jacob, serta Megan.

                     

Jacob sayang...

Di mana pun kamu berada sekarang, yakinlah bahwa kamu akan selalu ada dalam hati dan pikiran kami, setiap saat, setiap hari, selama kami hidup. Kami akan selalu mencintaimu, putraku yang tampan, menarik dan berbakat dengan senyum mempesona yang telah membawa kebahagiaan dalam hati kami. Tuhan memberkatimu nak..

-Dengan seluruh cinta, ibu, ayah, Louise dan kakek John-


Mencoba Merelakan, Megan Juga Hanya Bisa Mengungkapkan Isi Hatinya Lewat Pesan


Sementara itu, Megan yang telah merencanakan masa depan indah bersama Jacob juga merasakan kehilangan yang amat besar. Megan meyakini bahwa kekasihnya pasti akan selamat dari peristiwa pahit itu, jika saja ia datang lebih awal.

                                                  Pesan terakhir Megan Duffy untuk Jacob Schilt


Hai sayang..

Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Kamu adalah cinta dalam hidupku. Aku bahkan yakin bahwa kita akan segera menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia di Brighton. Aku juga bermimpi kita akan memiliki 10 ekor kucing yang kamu inginkan. Sekarang, impian itu tidak akan pernah terwujud, tapi aku akan selalu mencintaimu, dan kamu akan selalu menjadi bagian dari hidupku. Aku akan selalu menghargai semua kenangan yang pernah kita lalui bersama. Mungkin akan ada kesalahan penulisan dalam pesan ini yang membuatmu tertawa.

-Sangat mencintaimu, Megan-



Dapatkah Anda merasakan goresan dalam yang dialami Megan melalui pesan yang ia tuliskan? Pesan itu dituliskan Megan sebagai tanda bahwa ia telah merelakan kepergian Jacob, sekaligus merelakan impian indah yang telah ia rangkai bersama Jacob. Pasti sulit baginya, namun Megan berjuang untuk merelakan agar Jacob dapat tenang di sana. Selamat jalan, Jacob ...

Seorang Anak Yang Malu Mengakui Ibunya


Ini adalah sebuah kisah lama yang patut direnungkan berkali- kali, bahwa betapa besarnya pengorbanan seorang ibu pada kita.

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. 

Sebuah kisah nyata dari Taiwan, tentang seorang anak yang tak mengakui ibu kandungnya hanya karena ibunya mengalami cacat wajah.

Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewek-cewek yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager dah tentu gajinya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewek-cewek yang masih jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul-betul seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci ( pakai mesin cuci ) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satunyanya A be.

Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung karena kasihan.” jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya menjadi sangat sedih sekali mendengarnya, tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. 

A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be jadi BT ( bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. 

Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius, sedangkan sang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. 

Dia baru menyadari bahwa karena pengorbanan ibunya yang menyelamatkan dirinya, maka keadaan wajah ibunya bisa seperti sekarang ini. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudahlah nak, Ibu sudah maafkan kok, jangan di ungkit lagi ”.

Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan) yang kemudian membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.

Jadi bagi yang masih punya Ibu ( Mama) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, dia adalah tetap ibu kita yang melahirkan kita, segera bersujudlah di hadapannya. Selagi masih ada waktu, jangan sia-sia kan budi dan jasa ibu selama ini yang telah merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih, sungguh kasih dan pengorbanan seorang ibu sangat mulia.

Makam Bentuk Hati, Tanda Cinta Suami Pada Istri


Cinta sejati memang tak akan pudar walau dimakan waktu. Kalau Anda bertanya-tanya, apakah ada cinta sejati di dunia ini? Setelah membaca artikel ini, Anda akan menjawab ADA.

Adalah seorang laki-laki bernama Winston Howes, seorang petani di Inggris sana. Ia ditinggal mati mendadak oleh istrinya, Janet, yang masih berusia 33 tahun. Si istri yang mengalami serangan jantung.

Semenjak kematian istri tercintanya 17 tahun yang lalu, Winston menanam beribu pohon oak di daerah rumahnya. Awalnya Winston menganggap ini adalah taman rahasianya.

Rahasia mulai terkuak ketika seorang pilot balon udara terbang mengelilingi daerah rumah Winston. "Aku memiliki balon udara sendiri dan terbiasa terbang. Tapi pemandangan yang aku lihat dari atas kali ini sungguh menakjubkan," ujar Andy Collett si penemu tempat tersebut. Dari atas, pohon-pohon oak yang ditanam Winston tumbuh dan terdapat space berbentuk hati di sana. Disebut-sebut space berbentuk hati tersebut adalah makam sang istri.

Winston ingin terus mengenang istrinya dengan menanam beribu pohon oak yang membentuk hati tersebut. Setelah menanam pohon tersebut, Winston menghilang begitu saja. Di taman tersebut ditemukan sepucuk surat yang mengatakan bahwa itu adalah taman yang dibuat Winston untuk mendiang istrinya.

So sweet ya Guys? Sekarang percayakah Anda bahwa cinta sejati itu ada?

Istri Meninggal Karena 'Patah Hati' Setelah Ditinggal Mati Suami


Kita memang tak tahu kapan ajal menjelang. Namun yang satu ini mungkin bisa membuktikan bahwa cinta sehidup semati itu memang ada.

Carol West adalah seorang ibu beranak 3 yang baru saja menjanda. Namun dalam beberapa minggu saja, ia menyusul kepergian suaminya. Apakah kematian itu menular?

Tidak, bukan kematian yang menular, namun Carol konon mengalami masa dukacita dan kehilangan yang luar biasa setelah ditinggal mati sang suami.

Sebelumya, sang suami yang bernama Michael West meninggal lebih dulu karena kanker. Dan hal ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi Carol. Ia menjadi linglung dan kesehatannya memburuk.

Carol pun jatuh sakit dan saat dibawa ke rumah sakit, ibu 3 anak ini menghembuskan nafas terakhirnya. Putra Carol menyadari betul bahwa ibunya sangat sedih setelah ayahnya meninggal dan mengatakan mungkin ibunya meninggal karena 'patah hati'.

"Mereka tak bisa hidup tanpa satu sama lain. Sesederhana itu," kata Tony, putra Carol. Meski begitu, ia juga merasakan kehilangan yang berat setelah ayah dan ibunya meninggal dalam jangka waktu yang berdekatan.

"Ayah dan ibu adalah orang tua terbaik yang pernah aku miliki. Mereka benar-benar saling mencintai," pungkasnya.

Benar atau tidak mitos tentang sehidup semati, kita doakan saja agar keduanya tenang di alam sana. 

Dia Selamat Dari Medan Perang, Tapi Meninggal di Pelukanku


Salah satu hal yang paling berat dan menyedihkan adalah ditinggal mati oleh orang yang sangat kita sayangi. Tak mudah rasanya menerima kenyataan bahwa orang yang sejam lalu masih tertawa bersama kita, kemudian harus meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Namun bagi Paige Palmer, ia cukup beruntung karena sempat memeluk kekasihnya untuk terakhir kali. Fusilier Tony Emery adalah pria yang bekerja di kemiliteran sebagai tentara. Ia sudah banyak melewati medan perang di Aghanistan dan Iraq.

Fusilier diakui sebagai tentara yang berdedikasi dan punya solidaritas. Namun sayang ia berumur pendek di dunia ini. Sebuah kecelakaan mobil merenggut nyawanya. Saat itu terjadi, Paige juga sedang bersamanya dan mengalami luka yang cukup parah.

Paige berusaha menyelamatkan dirinya dan sang kekasih dengan tertatih-tatih. Namun sayang ia tak terselamatkan lagi dan pria itu meninggal di pelukannya. Dalam akun social medianya, ia berkata, "Selamat jalan prajuritku. Seharusnya kita pergi bersama, namun setidaknya aku sempat memelukmu. Rasanya semua ini cuma mimpi buruk. Aku akan merindukanmu selamanya, Tony."

Ibu Paige mengatakan bahwa ia cukup salut dengan Tony dan bersimpati dengan kehilangan yang dialami oleh anaknya. Menurutnya bila menjalin kasih dengan tentara, kita mungkin selalu mempersiapkan batin dengan kemungkinan terburuk di medan perang. Namun ia tahu bahwa anaknya tak akan pernah menduga bahwa Tony akan meninggal karena kecelakaan.

Ya, manusia bisa berencana namun Tuhan lah yang menentukan. Semoga gadis ini diberikan ketabahan.

Kubaca Surat-Surat Almarhum Ayah dan Air Mataku Berlinang


Kematian terkadang terjadi dengan cara yang begitu mengejutkan. Bahkan banyak orang yang tak pernah menyangka atau berharap kematian datang lebih cepat dari yang diduganya. Bisa jadi sebenarnya kita tak pernah bisa benar-benar siap menghadapi kematian itu. Namun, jika takdir sudah digariskan, maka kita tak bisa berbuat banyak.

Guys, berikut ini adalah kisah yang diadaptasi dari tulisan Rafael Zoehler berjudul "When I'm Gone" Kisah ini menceritakan seorang putra yang membaca surat-surat yang ditulis langsung oleh mendiang ayahnya. Ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita dapat. Tak hanya tentang kematian, tetapi juga bagaimana cara kita bisa memberi nyawa pada kehidupan kita. Dan setiap surat yang dibaca oleh putranya benar-benar sangat menggugah perasaan dan membuat air mata menetes.


Mendiang Ayah yang Penuh Kehangatan

Kematian ayah terjadi dengan cara yang tak pernah aku duga. Ia meninggal pada usia 27 tahun. Ia masih muda, malah terlalu muda. Ayahku bukanlah seorang musisi ataupun orang terkenal. Tapi kanker tak pernah memilih korbannya. Ayah meninggal ketika aku masih kecil dan aku baru tahu apa itu pemakaman karenanya. Saat itu usiaku baru 8,5 tahun dan hingga kini masih merindukannya.

Ayahku adalah orang yang menyenangkan dan humoris. Ia juga penyayang yang selalu mencium keningku sebelum aku tidur. Ayah tak pernah bilang kalau ia akan meninggal. Meskipun ia terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan selang di mana-mana, ia tak pernah bilang apa-apa. Hanya saja ia memberitahuku rencana yang ingin ia lakukan setahun ke depan, ia ingin pergi memancing, jalan-jalan, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Tadinya aku percaya rencananya akan terlaksana, hingga suatu hari ibu menjemputku di sekolah.

Aku dan ibu pergi ke rumah sakit. Dokter bilang ia sudah berusaha sebaik mungkin. Lalu ibu menangis. Ia sebenarnya menyimpan secercah harapan. Kemudian aku merasa marah, bukankah penyakit ayah adalah penyakit biasa, penyakit yang bisa disembuhkan dokter dengan satu suntikan? Aku berteriak penuh amarah di rumah sakit. Sampai ketika aku benar-benar menyadari ayah telah tiada, aku menangis.


Kotak Sepatu yang Berisi Banyak Amplop

Meski raga ayah sudah tak bernyawa, tapi napas kehidupannya masih bisa kurasakan. Seorang perawat mendatangiku dengan membawa sebuah kotak sepatu. Kotak sepatu itu berisi banyak sekali amplop. Aku awalnya tak mengerti sampai ia bilang, "Ayahmu memintaku memberikan surat-surat ini untukmu. Ia menghabiskan waktu seminggu penuh menulis ini semua dan ia ingin kamu membacanya. Tetaplah tegar."

Sebuah amplop bertuliskan "Ketika Aku Pergi" kubuka. Lalu aku membaca isinya.

"Putraku,

Saat kamu membaca surat ini, Ayah sudah pergi. Maaf. Ayah sebenarnya sudah tahu kalau Ayah akan meninggal.

Ayah tak mau memberitahumu apa yang akan terjadi, Ayah tak ingin melihatmu menangis. Meski sekarang mungkin kamu sudah menangis. Ayah merasa kalau pria yang tahu dirinya tak akan berumur panjang boleh saja bertindak sedikit egois.

Namun, kamu tahu, Ayah belum mengajarimu banyak hal. Oleh karena itu, Ayah membuat semua surat ini untukmu. Kamu baru boleh membukanya di saat yang tepat. Oke? Ini adalah kesepakatan kita.

Ayah mencintaimu. Jaga ibumu. Kamu adalah kepala rumah tangga sekarang.

Penuh cinta, Ayah.

NB: Ayah tak menulis surat untuk ibumu. Ia sudah mendapatkan mobil Ayah."


Ayah malah membuatku berhenti menangis karena tulisannya jelek. Meski hati ini sedih, tapi aku bisa sedikit tersenyum. Aku kini tahu kalau kotak sepatu itu berisi banyak pelajaran hidup yang bisa mendewasakanku nantinya.


Ketika Aku Bertengkar dengan Ibu

Aku pun tumbuh menjadi seorang remaja. Aku dan ibu pindah ke rumah yang baru. Sepeninggal Ayah, Ibu mengencani banyak pria tapi tak ada satu pun yang bisa menjadi kandidat terbaik untuk menggantikan posisi Ayah. Tapi Ibu masih saja bergonta-gani kekasih. Aku marah. Aku kesal. Terlebih ketika Ibu menamparku setelah aku komplain dengan kekasih barunya.

Tamparan Ibu tak sesakit rasa perih yang kurasakan dalam hati. Dan saat itu aku teringat dengan kotak sepatu dan surat-surat almarhum Ayah. Kuambil sepucuk surat yang bertuliskan "Ketika Kamu Bertengkar Hebat dengan Ibumu."

"Sekarang minta maaflah kepada Ibumu,

Aku tak tahu kenapa kamu bertengkar dan siapa yang benar dan salah. Tapi aku mengenal ibumu. Jadi minta maaflah dengan tulus demi menyelesaikan ini semua. Yang kumaksud minta maaflah dengan hati yang sungguh-sungguh.

Ia adalah Ibumu, anakku. Ia mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini. Kau tahu ibu melahirkanmu dengan penuh perjuangan? Pernahkah kamu melihat seorang wanita melahirkan? Masih perlukah kubuktikan cinta yang lebih besar dari itu semua?

Minta maaflah. Ia pasti akan memaafkanmu.

Penuh cinta, Ayah."

Ayahku bukanlah seorang penulis yang baik. Ia hanyalah seorang pegawai bank biasa. Tapi kata-kata yang ia tulis itu benar-benar menyentuh perasaanku.

Aku langsung pergi ke kamar ibu. Dan betapa terkejutnya aku karena ia menangis. Matanya memerah dan terlihat jelas dirinya pun ikut terluka. Aku merengkuh tubuhnya dan memeluknya, "Maafkan aku, Bu." Ia memelukku erat dan tak butuh kata-kata untuk membuat kami berdamai dengan perasaan masing-masing.



Ketika Aku Menikah dan Ibu Meninggal

Ayah selalu bersamaku hingga detik ini. Surat-suratnya selalu memberiku semangat hidup. Sampai kemudian aku menikah dan akhirnya punya anak. Sepucuk surat berjudul "Ketika Kamu Menjadi Seorang Ayah" akhirnya kubaca.

"Sekarang kamu tahu apa itu cinta yang sebenarnya, putraku. Kamu akan menyadari cintamu pada istri sangatlah besar, tapi rasa cintamu pada seorang malaikat kecil di sana akan lebih besar lagi. Aku tak tahu apakah ia laki-laki atau perempuan. Aku sudah menjadi mayat sekarang, bukan peramal nasib.

Bersenang-senanglah. Ini adalah sebuah keajaiban. Waktu akan berlalu, jadi pastikan kamu selalu berada di dekatnya. Kenangan tak akan pernah bisa terulang. Mengganti popok dan memandikan bayimu akan memberi pelajaran berharga. Jadilah panutan yang baik untuknya. Aku yakin kamu akan menjadi ayah yang hebat, sepertiku."


Waktu terus berjalan. Sampai sebuah kejadian paling menyedihkan dalam hidup kembali terjadi... Ibu meninggal.

Kubuka surat dari Ayah berjudul "Ketika Ibumu Meninggal". Dan surat itu adalah surat terpendek yang Ayah tulis sekaligus yang paling mengharukan. Hanya berisi tiga kata, tapi aku tahu Ayah pasti merasa sangat sedih dan terpukul saat menulisnya. 

"Ibumu sekarang milikku."

Sebuah gurauan. Tapi aku yakin di balik nada bercanda itu, hatinya saat itu pasti terasa remuk.



Ketika Waktuku Tiba

Sungguh luar biasa. Aku sekarang menjadi seorang pria tua. Usiaku sudah melebihi usia mendiang Ayahku. Namun, kini aku terbaring di tempat tidur di rumah sakit yang sama dengannya dulu. Waktu sudah berlalu. Kini aku merasa tak berdaya.

Sepucuk surat berjudul "Ketika Waktumu Tiba" tergeletak di dalam kotak. Aku takut membukanya. Aku tak ingin meninggal terlalu cepat. Tapi kucoba kumpulkan keberanianku. Kutarik napas dalam-dalam dan membaca isi surat tersebut.

"Hai, putraku. Kamu pasti sudah jadi pria tua sekarang.

Kau tahu, surat ini adalah surat paling mudah yang kutulis. Malah ini surat pertama yang kutulis. Ini adalah surat yang bisa membebaskan rasa sakit dengan bayangan akan kehilanganmu. Kurasa pikiranmu lebih jernih ketika kamu sudah sedekat ini dengan ajal. Mudah rasanya membahasnya.

Di hari-hari terakhir kehidupanku, aku memikirkan kehidupan yang telah kujalani. Kehidupanku sederhana tapi penuh kebahagiaan. Aku memilikimu dan ibumu. Apa lagi yang mau kuminta? Kalian telah membuatku bahgia. Sekarang lakukan hal yang sama.

Saranku untumu: kau tak perlu merasa takut.

NB: Aku merindukanmu"

Waspada! Pembantu Tampar Anak Majikan Yang Masih 16 Bulan


Waspadalah bunda, peristiwa ini jangan sampai menimpa buah hati Anda. Peristiwa penganiayaan kepada anak di bawah umur terjadi di Singapura. Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga menganiaya anak majikannya yang berumur 16 bulan.

Pembantu bernama Supriyani (24) mengaku bersalah telah menampar anak majikannya sebanyak tiga kali. Parahnya, dia juga mengaku mengangkat tubuh sang anak dengan meraih kepala anak tersebut. Kejadian ini terjadi di apartemen majikan Supriyani di bagian barat Singapura.

Supriyani telah bekerja untuk majikannya sejak bulan Mei. Wanita tersebut mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan pertamanya. Sore itu sang majikan meninggalkan apartemen untuk membeli bahan makanan. Pembantu dan anaknya ditinggalkan berdua saja.

Ketika majikan kembali, Supriyani mengatakan bahwa korban memiliki luka memar di bawah mata kirinya. Dia juga berdalih bocah itu selalu menggosok-gosok matanya sehingga luka. Majikannya pun curiga ketika melihat memar di pipi korban yang tampak seperti pukulan benda keras.

Sontak sang majikan kaget ketika membuka rekaman CCTV, ia melihat Supriyani menampar anaknya di pipi kanan. Sang anak diikat di kursi tinggi sambil diberi makan. Sekitar dua menit kemudian, Supriyani memberikan tamparan keras di pipi kiri korban. Kemudian ia mengangkat kepala anak tersebut dan menariknya dari kursi. Korban yang menangis keras juga diguncang-guncang tubuhnya.

Empat menit kemudian Supriyani kembali menampar pipi bocah malang tersebut. Tangisannya begitu keras sehingga membuatnya muntah. Setelah melihat kejadian tersebut sang ibu lalu memanggil adiknya untuk diminta menelepon polisi.

Hakim Distrik Low Wee Ping, menjatuhkan hukuman kepada Supriyani dengan dakwaan penganiayaan yang dapat mengakibatkan kerusakan otak. Beruntung balita tersebut hanya mendapat luka kecil di bawah kelopak mata kiri.

Supriyani mendapat denda 4000 dollar Singapura atau sekitar 40 juta rupiah. Di samping itu juga dikenai ancaman penjara empat tahun karena tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur.

Dari kisah ini kita harus waspada agar tidak asal memilih pengasuh balita. Jangan cuma menitikberatkan pada keterampilan pengasuh semata. Perhatikan juga faktor kasih sayang karena babysitter merupakan sosok pribadi yang akan terus-menerus berhubungan dengan anak.

Tepat Sebelum Aku Menikah, Akhirnya Aku Bisa Bertemu Ibu Kandungku


22 tahun lalu, Carrie Ruegsegger diadopsi oleh sebuah keluarga. Ibu kandungnya sendiri Kelly adalah orang yang merelakan putrinya itu untuk diadopsi keluarga lain. Kenapa sang ibu begitu tega untuk membiarkan putrinya diadopsi oleh keluarga lain?

Carrie lahir di Lima, Ohio pada tahun 1991. Ibunya Kelly dulu adalah orang tua tunggal dengan dua anak. Kelly sendiri hidup dalam garis kemiskinan tanpa pekerjaan apalagi rumah. Ketika ia menyadari bahwa dirinya tak sanggup memberikan hidup yang layak untuk Carrie, ia memutuskan untuk melepaskan anaknya diadopsi oleh keluarga lain.

"Saat itu saya merasa tak punya pilihan lain," kenang Kelly sambil berurai air mata. Ketika perawat mengambil Carrie kecil untuk dibawa pulang ke keluarga yang mengadopsinya, Kelly sempat berubah pikiran. Sayangnya, saat itu semua sudah terlambat.

Beruntung Carrie diadopsi oleh keluarga yang penuh kasih sayang. Dia memiliki dua kakak laki-laki dan ikut aktif di kegiatan olahraga di sekolahnya. Sementara Kelly terus memikirkan putrinya Carrie dan berdoa untuknya setiap saat.

Setiap tahun Kelly mengirimkan kartu ucapan ulang tahun dan surat. Sayangnya, karena pusat adopsi tutup, banyak surat yang tidak terkirim. 

Lalu, bagaimana dengan Carrie? Apakah dia tak berusaha untuk mencari sosok ibu kandungnya sendiri?

Ternyata meskipun Carrie memiliki hidup yang bahagia, ia merasa ada sesuatu yang hilang. Dia tak tahu apa yang hilang itu hingga akhirnya ia tumbuh dewasa. Saat Carrie duduk di bangku sekolah menengah, dia mulai mencari sosok ibu kandungnya.

Satu-satunya cara pertama yang ia lakukan saat itu adalah pergi ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Tapi betapa terkejutnya ia karena rumah sakit tersebut tidak memiliki catatan keterangan bahwa dirinya dilahirkan di rumah sakit tersebut.
Meski merasa belum menemukan titik terang, Carrie tak menyerah. Hingga manajer di tempat kerjanya memberikan sebuah gagasan: mengunggah foto Carrie yang membawa sebuah surat di Facebook. "Awalnya saya pikir ini ide yang tak masuk akal," kata Carrie saat itu. 

Dan ternyata dalam waktu dua hari, foto tersebut di dunia maya. Hingga seorang wanita muda bernama Aleshia melihat fotonya dan mengirimkan email ke Carrie. Aleshia ini ternyata saudara kandung Carrie. 

Carrie terkejut ketika ia melihat foto Aleshia yang sangat mirip dengan dirinya. Apalagi setelah Aleshia mengirimkan foto ibunya Kelly. Akhirnya beberapa minggu sebelum melangsungkan pernikahan, Carrie bisa bertemu ibu kandung dan keluarga yang sejak lahir tak pernah ditemuinya.

"Yang kami ucapkan hanyalah 'Aku menyayangimu. Aku telah lama menunggu saat aku bertemu denganmu.'" Carrie tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika akhirnya ia bisa memenuhi impiannya untuk bertemu keluarga kandungnya sebelum ia melangsungkan pernikahan. 

Meski terpisah jarak, ruang, dan waktu, ikatan ibu dan anak kandung akan terus ada. Bahkan ketika seorang anak diasuh oleh keluarga lain yang menyayanginya, ia bisa tetap merasa ada sesuatu yang hilang saat ia tahu bahwa yang mengasuh dirinya bukanlah ibu kandungnya sendiri.

Tak Punya Tangan, Masih Bisa Bertani, Memasak, dan Merawat Ibu Sendirian


Kisah seorang petani dari Kota Chongqing, Tiongkok, ini telah menginspirasi netizen di seluruh dunia. Meski tidak memiliki tangan, petani bernama Chen Xingyin ini tetap bisa melakukan pekerjaannya sebagai petani, sekaligus merawat ibu kandungnnya yang sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidurnya.



Pria yang kini berusia 48 tahun ini kehilangan lengannya akibat kecelakaan sewaktu ia masih berusia tujuh tahun. Chen adalah putra bungsu dari enam bersaudara.



Ia tinggal di Desa Tonxin, Fendu Country, Kota Chongqing, Tiongkok bersama ibunya.



Sejak 2014, ia harus mengurus ibunya yang berusia 88 tahun yang menderita sakit bronkitis sejak lima tahun yang lalu.



Meski tak memiliki tangan, ia bisa melakukan pekerjaan sehari-hari. Ia memasak untuk makan tiga kali sehari. Bahkan Chen lah yang selalu menyuapi ibunya.



Sebagai orang yang tidak memiliki tangan, ia adalah sosok yang patut dicontoh. Ia sanggup mengurus keperluan dirinya sendiri dan merawat ibunya sendirian, hanya dengan mengandalkan dua kakinya.



Setiap sore, sekitar pukul 15.00 ia harus mencari rumput untuk memberik makan 20 ekor kambing peliharaanya.


Cerita kemandirian Chen dan pengabdiannya kepada ibunya membuat hati para netizen tersentuh. Sejumlah orangtua, bahkan selebriti lokal telah menjadikan Chen sebagai orang yang patut dicontoh kepada anak-anak mereka.



"Meski tidak memiliki tangan, dia masih bisa bekerja lebih cepat daripada orang normal,: kata seorang warga desa.


Selama bertahun-tahun, Chen belajar menggunakan kakinya untuk mencuci, memotong, dan memasak makanan. Kini, hampir semua pekerjaan sanggup ia lakukan tanpa kesulitan. Jadi wajar, bila Chen menjadi sosok inspirasi dan telah membuah hati para netizen tersentuh.



Seorang netizen berkomentar, "Dalam beberapa hal, kakinya tampak lebih berguna daripada tangan saya. Apa yang saya hormati tentang dia yang paling adalah seberapa keras ia bekerja untuk membuat hidupnya lebih baik sendiri. Bukan hanya mengandalkan bantuan dari orang lain," tulis seorang netizen.



Seorang netizen bahkan merasa terharu saat melihat foto Chen sedang menyuapi ibunya. Chen yang tak memiliki tangan menyuapi ibunya menggunakan mulutnya untuk memegang sendok.
"Rasanya saya ingin menangis ketika melihat foto dirinya sedang menyuapi ibunya," tulisnya.



"Orang-orang seperti dia pantas dapat perhatian lebih dan pantas dijadikan sebagai contoh. Aku berdoa semoga dia selalu mendapat kebahagiaan," ujar netizen lain.





Menikah 70 Tahun, Suami Istri Tetap Bersatu Saat Dirawat di Rumah Sakit


Bagi pasangan yang telah hidup puluhan tahun bersama dan saling mencintai satu sama lain, tidak jarang akan merasakan sedih, kecewa hingga mengalami penurunan kondisi kesehatan ketika ia menyadari bahwa dirinya harus berpisah dengan orang yang dicintai. Kondisi kesehatan yang terus memburuk saat berpisah dengan pasangan yang begitu dicintai, nampaknya juga terjadi kepada sepasang suami istri yang telah menikah dan hidup bersama selama 70 tahun asal Fayetteville, Arkansas.

Pasangan tersebut adalah Tom Clark (96) dan istrinya Arnisteen (92). Awal bulan ini, pasangan ini melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Piedomont Fayette karena menderita beberapa penyakit komplikasi. Karena kondisi mereka yang tidak memungkinkan untuk dirawat di rumah, tim medis menyarankan agar keduanya di rawat di rumah sakit. Namun, mereka mendapatkan perawatan di kamar terpisah walau keduanya berada di rumah sakit yang sama.

Dari laporan yang ada, saat dilakukan perawatan inilah, kondisi keduanya tidak semakin membaik tetapi justru semakin memburuk. Rupanya, keduanya merasa menderita karena tak bisa melihat dan bersama satu sama lain. Keduanya mengaku bahwa mereka begitu merindukan pasangannya dan ingin selalu bersama di usianya yang telah senja. Perpisahan karena perawatan ini membuat hati keduanya menderita dan tak bisa berhenti memikirkan satu sama lain. Pasalnya, perpisahan ini adalah perpisahan yang membuat keduanya tak berdaya dan patah semangat untuk melawan penyakitnya.

Merujuk peraturan di Negara Bagian Arkansas, pihak rumah sakit tidak boleh merawat sepasang suami istri di ruangan yang sama. Karena peraturan inilah, tim medis di rumah sakit merawat pasangan ini di kamar terpisah. Tapi, setelah mendengar pengakuan pasangan bahwa mereka menderita saat dipisahkan, Tina Mann, manager rumah sakit memberikan pengaturan khusus untuk keduanya.

Tom dan Arnisteen diizinkan dirawat dalam satu kamar yang sama. Saat keduanya dirawat di ruangan yang sama, keduanya terlihat begitu bahagia. Saat berada di ruangan yang sama bersama istri sembari menggenggam tangannya, Tom mengatakan bahwa "Saya tidak bisa berpisah darinya. Dia adalah wanita terbaik di dunia ini untuk saya. Saya akan sangat menderita ketika saya berpisah dan juah darinya."

Sungguh romantis kisah cinta dari kakek Tom dan nenek Arnisteen ini ya Guys. Sejak foto keduanya di posting ke media sosial, keduanya telah menjadi inspirasi dari ribuan bahkan jutaan orang di dunia untuk memiliki kisah cinta menakjubkan seperti keduanya. Semoga pasangan ini selalu diselimuti kebahagiaan penuh selama sisa hidup mereka ya.

Kisah Nyata Seorang Pramugari Dan Kakek Tua


Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada saat saya bekerja, saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.

Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

                                                                                ~ o ~

Dari tulisan ini ada beberapa pelajaran yang mungkin bisa di ambil :

Tulus dan sayang seorang bapak ke anak.
Kesopanan, kesantunan dan kesederhanaan
Kejujurannya… dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri (berikan pada anak dari yang menjadi hak kita sendiri, bukan dari yang mengambil hak orang lain)
Jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.