Kisah Nyata Polisi dan Penjual Sapu di Perempatan Jalan


Ini sebuah kisah nyata. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran di dalamnya.

Kemarin, sekitar pukul setengah 8 pagi, ketika saya dan temen saya sedang sarapan disebuah warung makan di dekat lampu merah Rogowangsan, Pati, Jateng. Mata saya tertuju ke seorang kakek penjual sapu ijuk di seberang jalan.

Sambil memegang tongat, beliau jalan tertatih. Tetap di dekat lampu merah, ia terduduk. Sapu ijuk dagangannya diletakkan di samping.

Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, seorang ibu mendekat membeli dagangan kakek itu.

Saat kuperhatikan, ternyata tongkat yang ia bawa bukan hanya untuk membantunya berjalan karena kakinya yang sudah lemah. Tapi juga sebagai penuntut arah. Karena si kakek mempunyai masalah dgn penglihatan. Itulah mengapa ada bendera merah terikat di tongkatnya.

Setelah mengantongi uang hasil jualan, ia kembali beristirahat. Sinar mentari memang sedang gagahnya siang itu. Satu persatu tarikan nafas dihaturnya.

Tak berselang begitu lama, seorang polisi lalu lintas menghampirinya. Sambil membawakan nasi kotak plus air mineral. Lumayan lama mereka terlibat obrolan.

Setelah pak Polisi pergi, sang kakek menyantap nasi kotak dengan lahapnya.

Deg… Jantungku berdegub melihat kejadian itu. Aku yang sering memilih-milih makanan dan terkadang membuangnya padahal masih dua suap karena tak enak, serasa ditegur oleh pemandangan tersebut.

Masih banyak saudara-saudaraku yang untuk makan saja harus berjibaku. Itupun kadang hasilnya cuma buat makan sekali. Sisanya puasa.

Tak terasa airmataku menetes. Menetes melihat perjuangan seorang kakek tua yang jalannya saja susah, tapi tetap berusaha untuk hidupnya. Tidak berpangku tangan. Apalagi mengemis.

Ya Tuhan… Jadikanlah hambamu ini hamba yang pandai bersyukur.

Semoga kejadian ini bisa jadi inspirasi buat kita semua.

Terima kasih pak polisi karena telah memberikan contoh yang baik. Semoga rezeki anda dilimpahkan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar